Biografi Sapardi Djoko Damono, Sang Penyair “Hujan Bulan Juni”

“Hujan Bulan Juni” Ini Biografi Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau yang akrab disapa dengan sebutan SDD merupakan seorang sastrawan terkenal asal Indonesia. Beliau telah melahirkan banyak karya mulai dari sajak, puisi, dan juga cerita pendek dari tahun 1969 hingga saat ini.

Sastrawan yang lahir pada tanggal 20 Maret 1940 di Surakarta ini, terkenal akan karya puisinya yang sederhana namun penuh akan makna kehidupan. Tak heran, karya sastra milik Sapardi Djoko Damono masih terkenal hingga di era modern seperti saat ini.

Ketertarikannya pada dunia sastra sudah ia tunjukan sejak di bangku sekolah. Masa pendidikannya pun ia fokuskan pada jurusan yang masih berhubungan dengan ilmu sastra. Bagaimana kisah selengkapnya? Berikut ini adalah Biografi Sapardi Djoko Damono, sang sastrawan kebanggaan Indonesia.

Kisah Sapardi Djoko Damono, Si Panyair “Hujan Bulan Juni”

1. Masa Kecil

Sapardi Djoko Damono dilahirkan di kota Solo, 20 Maret 1940. Kedua orang tuanya yaitu Sadyoko dan Sapariyah tidak memiliki jejak apapun di dunia sastra. Sehingga, SDD mendalami dunia sastra atas kegemarannya sendiri dan bukan karena diturunkan oleh kedua orang tuanya.

2. Riwayat Pendidikan

Sapardi memulai riwayat pendidikannya di sebuah Sekolah Rakyat Kraton Kasatrian di Baluwarti Solo. Bisa dibilang, jenjang pendidikan ini setara dengan Sekolah Dasar. Beliau kemudian melanjutkan ke SMP Negeri II Solo di tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta di tahun 1958.

Ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, ketertarikan Sapardi Djoko Damono akan dunia sastra mulai terlihat. Namun, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Bahasa Inggris. Lulus di tahun 1964, Sapardi juga pernah mendalami pengetahuannya di Univesitas Hawaii, Honolulu Amerika Serikat dari tahun 1970 hingga 1971.

Kemudian, Sapardi Djoko Damono meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia di tahun 1989 dengan jurusan Ilmu Sastra yang sekarang disebut dengan jurusan Ilmu Budaya. Pada saat itu, karya – karya beliau sudah banyak diterbitkan di majalah local maupun nasional.

3. Karir

Selain menjadi seorang sastrawan, Sapardi Djoko Damono juga memiliki cita – cita sebagai seorang dosen. Di tahun 1974, beliau pernah mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai seorang Dekan di Fakultas Ilmu Budaya UI dari tahun 1995 hingga 1999 dan mendapatkan gelar guru besar.

Sebelumnya, Sapardi Djoko Damono juga telah menjadi dosen di beberapa Univesitas. Di antaranya adalah dosen tetap di IKOP Malang pada tahun 1964 hingga 1968 dan dosen tetap di Fakultas Sasta – Budaya Universitas Diponogoro, Semarang pada tahun 1968 hingga 1973.

Di tahun yang masa ketika Sapardi Djoko Damono menjabat sebagai dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, beliau juga menjadi redaktur dari beberapa majalah yang cukup terkenal. Beberapa diantaranya adalah Horison, Kalam, Basis, Majalah Ilmu – ilmu Sastra Indonesia, dan Pembinaan Bahasa Indonesia. Beliau juga pernah menjadi country editor dari salah satu majalah asal Kuala Lumpur yaitu Tenggara.

Hingga saat ini pun, Sapardi Djoko Damono masih aktif dalam membagikan ilmu sastranya. Beliau mengajar di Sekolah Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta atau IKJ dan tetap menulis karya – karya terbarunya.

Sapardi Djoko Damono juga menjadi salah satu pendiri dari Yayasan Lontar bersama dengan Goenawan Susatyo Mohamad, John H McGlynn, Subagio Sastro Wardouo, dan Umar Kayam. Yayasan ini, bergerak di bidang pelestarian dan promosi sastra dan budaya Indonesia.

4. Pernikahan Dengan Istri

Terdapat ungkapan “ Di balik pria yang sukses, ada wanita hebat di belakangnya “. Hal inilah yang dirasakan oleh Sapardi Djoko Damono. Pernikahannya bersama sang wanita idaman yaitu Wardiningsih, membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Beliau juga dikaruniai dua orang putra dan putri yaitu Rasti Suryandani dan Rizki Henriko.

Sapardi Djoko Damono juga pernah menuliskan kumpulan puisi dan sajak untuk Wardiningsih, wanita yang setia menemaninya hingga 78 tahun. Puisi ini berjudul Hujan Di Bulan Juni yang kemudian dijadikan novel dalam judul yang sama.

Pernikahannya dengan sang istri hanya dapat dipisahkan oleh maut. Pada tanggal 17 Februari 2019 yang lalu, Wardiningsih binti Sungkono menghembuskan nafas terakhirnya di RS Hermina.

5. Karya

Karya sastra dari Sapardi Djoko Damono pertama kali dimuat oleh salah satu surat kabar di Semarang. Sejak saat itu, kepopuleran SDD akan karya sastranya pun di mulai dan karyanya semakin banyak diterbitkan di berbagai majalah. Beliau pun juga menerjemahkan banyak sastra asing ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Berikut ini, adalah beberapa karya sastra ciptaan Sapardi Djoko Damono :

  • Duka – Mu Abadi (1969)
  • Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan)
  • Mata Pisau (1974)
  • Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
  • Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
  • Perahu Kertas (1983
  • Sihir Hujan (1984)
  • Afrika Resah (1988; terjemahan)
  • Hujan Bulan Juni (1994)
  • Arloji (1998)
  • Ayat – ayat Api (2000)
  • Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
  • Kolam (2009)
  • Suti (2015)
  • Pingkan Melipat jarak (2017)
  • Yang Fana Adalah Waktu (2018)

Sapardi Djoko Damono juga terkenal akan karya musikalisasi puisinya. Pada tahun 1987, beliau dengan dibantu oleh beberapa mahasiswa program Pusat Bahasa, membuat sebuah musikalisasi puisi yang berisi karya dari beberapa penyair Indonesia. Salah satu sastranya yaitu Hujan Bulan Juni, juga dimusikalisasi dan menjadi satu album dengan nama yang sama.

Selain itu, SDD juga banyak mengeluarkan karya nonsastra. Di antaranya :

  • Sastra Lisan Indonesia
  • Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan
  • Dimensi Mistik dalam Islam
  • Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas
  • Politik Ideologi dan Sastra Hibrida
  • Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia
  • Pegangan Penelitian Sastra Bandingan
  • Babad Tanah Jawi
  • Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita
  • Alih Wahana
  • Tirani Demokrasi
  • BIlang Begini, Maksudnya Begitu

Karya – karya dari Sapardi Djoko Damono juga banyak yang diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Salah satu yang paling popular adalah Perahu Kertas yang disutradari oleh Hanung Bramantyo dan di rilis pada tahun 2012, dan Hujan Bulan Juni yang disutradai oleh Hestu Saputra dan di rilis pada tahun 2017.

Selain Sapardi Djoko Damono masih ada penulis yang kreatif dan juga produktif lainnya, yaitu Ramadhan K.H,

6. Penghargaan

Sapardi Djoko Damono juga telah menerima banyak perhargaan sebagai seorang sastrawan. Salah satu karya sastranya yang berjudul Sihir Hujan, mendapatkan penghargaan Puisi Putera II di Malaysia pada tahun 1984. Pada tahun 1986 beliau juga mendapatkan penghargaan SEA Write Award, penghargaan Anugrah Seni di tahun 1990, Kalyana Kretya di tahun 1996, dan juga penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003.

Yang terbaru, Sapardi Djoko Damono juga mendapatkan penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2018. Penghargaan ini beliau raih dari kedua bukunya yang sangat popular yaitu Hujan Bulan Juni dan Yang Dana Adalah Waktu.

About the author: ahid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *